Ku menulis 'curhatan' ini setelah ku stalking foto-foto doi dulu di Facebook. Dulu sekali.. 2010, foto doi terpampang di facebook. Doi masih kelas 6 SD. Kala itu doi mendapatkan juara 3 lomba Taekwondo. Prestasi yang cukup membanggakan tentunya. Yaahh dibanding seorang Aji, kelas 6 masih bangga dengan juara liga di Master Liga game Winning Eleven..
Hari ini ku mendapat insight baru. Ku harus lebih serius lagi untuk memantaskan diri menjadi imam yg baik bagi doi. Ku bertekad untuk mengkhibah doi setelah lulus S1. Namun menunggu 2 tahun untuk akad nikah setelah ku menyelesaikan studi S2.. Tekad ini bukan sekedar 'pencerahan' di siang bolong. Tapi menjadi sebuah keniscayaan. Ku ingin merencanakan dengan matang, bagaimana ku menghalalkan doi..
Yah tunggu saja yaa kelanjutannya ^^
Jumat, 05 Oktober 2018
Rabu, 19 September 2018
Emerald and Platinum
Hari ini ku melihatnya pertama kali melakukan presentasi. Jujur, ku tidak terlalu fokus. Mungkin karena ku sedang shoum, atau karena memang iklim kelas yang tidak kondusif, hawa-hawa ingin cepat pulang. Dan kehadirannya di kursi depan tempat presentator duduk semakin membuatku tidak fokus pada materi. Ku coba mengarahkan pandangan pada slide power point. Sialnya, mataku beberapa kali seperti autofokus pada wajah cantiknya. Setiap ku tak sengaja memandangnya, perasaan ini semakin timbul. Dia yang sejak November tahun lalu mengisi hatiku yg kosong berdebu. Semakin hari, perasaan ini semakin menjadi. Sifat-sifat baik doi yang membuatnya 'istri-able' tentu menjadi daya tarik logis setiap lelaki. Intinya, dia cantik, dia shalihah, dia cerdas. dan aku menyukainya! paham? hehe.. Dan pada hari itu, perasaanku padanya semakin terpupuk.
Aku yang sedang berusaha menghafal surat al-Waqi'an mencoba mentaddaburi maknanya. Perhatianku terhenti pada ayah 22 dan 23 yang artinya
"Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli. Laksana mutiara yang tersimpan baik"
Entah bagaimana, pikiranku langsung teringat padanya. Wajah cantiknya, senyuman manis meneduhkannya, bibir merah meronanya, kulit putih cerahnya, dan tentunya sifat-sifat baik yang melekat padanya. Seakan ku membayangkan ia adalah bidadari dunia. Wanita shalihah yang menjadi perhiasan terbaik dunia.
Aku yang mengisi waktu sore hingga kira-kira jam 9 malam bersama teman-teman sempat mengobrol soal doi. Teman baikku, Lazuardi akhirnya mengetahui yang mana doi. Dan dia mengakui doi itu 'cantik dan bening'.. yaa semua orang normal pasti bilang seperti itu. Setelah obrolan ngaler ngidul, ku curhat tentang perasaan minderku terhadapnya. Ku tak curhat mengenai aku yang tidak pantas mendapatkan bidadari dunia sepertinya. Dalam hati terdalam, ku yakin bisa menjadi imam yg baik . baginya. Tetapi ada masalah lain.. orang tuanya. Ya,, orang tuanya berbeda jauh dalam hal keIslaman dengan doi. Doi yang tampak begitu taat menjalankan aturan Allah ternyata kurang mendapat restu dari orang tuanya.
Sejauh yang ku tahu, orang tuanya memegang adat Jawa yang cukup kuat. Ayahnya adalah pengusaha. Bahkan orang tuanya menginginkan agar doi kuliah manajemen di ITB untuk meneruskan bisnis. Tentu materi adalah tolak ukur bagi orang tuanya. Sedangkan ku merasa minder terhadap ini. Jujur, ku bukan orang yang punya passion untuk menghasilkan uang sebanyak mungkin, tetapi passion ku di dunia pendidikan. Mengabdi untuk mengajar dan berdakwah pada ummat.
Dan saat ku pulang ke rumah menaiki motor dengan temanku, ku mendapatkan inspirasi kalimat untuk melawan rasa minderku.
"Yes, she is an emerald. but YOU! YOU ARE A PLATINUM!"
You deserve to get her! and even you deserve to get ANY EMERALD in this planet!
Just ask to Allah, do your best, and may Allah give you the best result!
Aku yang sedang berusaha menghafal surat al-Waqi'an mencoba mentaddaburi maknanya. Perhatianku terhenti pada ayah 22 dan 23 yang artinya
"Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli. Laksana mutiara yang tersimpan baik"
Entah bagaimana, pikiranku langsung teringat padanya. Wajah cantiknya, senyuman manis meneduhkannya, bibir merah meronanya, kulit putih cerahnya, dan tentunya sifat-sifat baik yang melekat padanya. Seakan ku membayangkan ia adalah bidadari dunia. Wanita shalihah yang menjadi perhiasan terbaik dunia.
Aku yang mengisi waktu sore hingga kira-kira jam 9 malam bersama teman-teman sempat mengobrol soal doi. Teman baikku, Lazuardi akhirnya mengetahui yang mana doi. Dan dia mengakui doi itu 'cantik dan bening'.. yaa semua orang normal pasti bilang seperti itu. Setelah obrolan ngaler ngidul, ku curhat tentang perasaan minderku terhadapnya. Ku tak curhat mengenai aku yang tidak pantas mendapatkan bidadari dunia sepertinya. Dalam hati terdalam, ku yakin bisa menjadi imam yg baik . baginya. Tetapi ada masalah lain.. orang tuanya. Ya,, orang tuanya berbeda jauh dalam hal keIslaman dengan doi. Doi yang tampak begitu taat menjalankan aturan Allah ternyata kurang mendapat restu dari orang tuanya.
Sejauh yang ku tahu, orang tuanya memegang adat Jawa yang cukup kuat. Ayahnya adalah pengusaha. Bahkan orang tuanya menginginkan agar doi kuliah manajemen di ITB untuk meneruskan bisnis. Tentu materi adalah tolak ukur bagi orang tuanya. Sedangkan ku merasa minder terhadap ini. Jujur, ku bukan orang yang punya passion untuk menghasilkan uang sebanyak mungkin, tetapi passion ku di dunia pendidikan. Mengabdi untuk mengajar dan berdakwah pada ummat.
Dan saat ku pulang ke rumah menaiki motor dengan temanku, ku mendapatkan inspirasi kalimat untuk melawan rasa minderku.
"Yes, she is an emerald. but YOU! YOU ARE A PLATINUM!"
You deserve to get her! and even you deserve to get ANY EMERALD in this planet!
Just ask to Allah, do your best, and may Allah give you the best result!
Jumat, 10 Agustus 2018
About Time
Adakah yang pernah menonton film About Time? Ada hal yang unik dalam film tersebut, yakni seseorang yang bisa menjadi Time traveler. Dia bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki masa depannya. Saya langsung berfantasi saya memiliki kemampuan seperti itu. Jika saya bisa, saya akan memilih untuk kembali ke masa bayi, bahkan saat saya masih dalam kandungan. Keinginan terbesar saya, jika memang bisa adalah Reborn. Terlahir kembali. Menjalani hidup dengan sepenuhnya yang baru. Diasuh oleh sorang ibu kandung, menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah, berani bermimpi dan mewujudkannya. Entahlah, yang jelas hal itu tidak mungkin. Namun ku terkadang muak dengan nasihat ku harus hidup sebaik mungkin. Semoga saja, ku tak lagi muak medengarnya dan mulai memaknai nasihat tersebut
Rabu, 01 Agustus 2018
Rintikan hujan
Dear rintikan hujan,
Ku terdiam dalam penantian
Maukah engkau ku titipkan
Ku titipkan sebuah pesan kerinduan
Kerinduan pada sang pujaan
Dia indah, laksana mutiara
Dia berharga, dia terjaga
Dia diinginkan banyak orang
Keindahanya memancarkan cahaya kebaikan
Dia lah engkau, sang pujaan
PadaNya ku curahkan harapan
Harapan akan masa depan
Bersanding denganmu di pelaminan
#Pluviophile #InspirasiHujan #PuisiAjiZayn
Ku terdiam dalam penantian
Maukah engkau ku titipkan
Ku titipkan sebuah pesan kerinduan
Kerinduan pada sang pujaan
Dia indah, laksana mutiara
Dia berharga, dia terjaga
Dia diinginkan banyak orang
Keindahanya memancarkan cahaya kebaikan
Dia lah engkau, sang pujaan
PadaNya ku curahkan harapan
Harapan akan masa depan
Bersanding denganmu di pelaminan
#Pluviophile #InspirasiHujan #PuisiAjiZayn
Rabu, 07 Maret 2018
Hasil Mengalam Fenom Pertama
Hari itu mungkin jadi salah satu hari yang paling ku kenang dalam hidupku. Ada sebuah momen sederhana, namun jadi salah satu pelajaran penting dalam hidupku. Momen itu sangat sederhana. Sederhana sekali. Ku hanya mengamati lumut yang menempel di dinding beserta organisme lain yang ada di sekitarnya. Sederhana, bukan? lalu apa pelajaran berharganya? Itulah yang hendak ku tuangkan dalam refleksi singkat kali ini.
Ku duduk, mencoba untuk diam, fokus, konsetrasi pada satu objek. Namun karena masih pemula, tak mudah ku lakukan. Seiring terbiasa, ku mulai menikmati pengamatanku. Ku melihat lumut hijau menempel di dinding. Tak jauh darinya ada tumbuh-tumbuhan kecil, yang juga menempel di dinding, berwarna hijau, entah ku tak tahu tumbuhan apa. Yang jelas dedaunan pada tumbuhan tersebut mengingatkanku pada suasana pantai Pangandaran. Dedaunan yang bergerak harmoni mengikuti arah angin, seakan memanjakan mataku. Terik matahari pun seakan mengkondisikanku tuk betah mengamati lumut dan tumbuh-tumbuhan tersebut. Teduh, sejuk, adem. Noema yang tak kalah menarik atensiku adalah semut-semut yang berjalan tak beraturan di dinding. Ku tak mengerti arah tujuan semut ini. Mereka tak sedang membawa makanan, tak pula membuat sarang. Namun semut yg berjalan tanpa tujuan seakan membawaku pada salah satu momen terburuk dalam hidupku. Saat itu ku tak tahu harus kemana. Bahkan lebih buruk lagi, ku merasa tersesat sendirian.
Sebagai makhluk yang senantiasa menghamba, terdapat pengagungan kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Solemnitas, tadabur alam. Melihat ciptaanNya, menambah rasa syukur dan kecintaan padaNya. Ku teringat potongan ayat pada qur'an surat ali-Imron: 190 & 191 yang artinya,Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
Tak diragukan lagi begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan. Begitu banyak tanda kekuasaanNya. Alhamdulillah momen ini bisa menjadi penambah kecintaanku pada Allah. Semoga ini menjadi cinta yang hakiki dan abadi
Ku duduk, mencoba untuk diam, fokus, konsetrasi pada satu objek. Namun karena masih pemula, tak mudah ku lakukan. Seiring terbiasa, ku mulai menikmati pengamatanku. Ku melihat lumut hijau menempel di dinding. Tak jauh darinya ada tumbuh-tumbuhan kecil, yang juga menempel di dinding, berwarna hijau, entah ku tak tahu tumbuhan apa. Yang jelas dedaunan pada tumbuhan tersebut mengingatkanku pada suasana pantai Pangandaran. Dedaunan yang bergerak harmoni mengikuti arah angin, seakan memanjakan mataku. Terik matahari pun seakan mengkondisikanku tuk betah mengamati lumut dan tumbuh-tumbuhan tersebut. Teduh, sejuk, adem. Noema yang tak kalah menarik atensiku adalah semut-semut yang berjalan tak beraturan di dinding. Ku tak mengerti arah tujuan semut ini. Mereka tak sedang membawa makanan, tak pula membuat sarang. Namun semut yg berjalan tanpa tujuan seakan membawaku pada salah satu momen terburuk dalam hidupku. Saat itu ku tak tahu harus kemana. Bahkan lebih buruk lagi, ku merasa tersesat sendirian.
Sebagai makhluk yang senantiasa menghamba, terdapat pengagungan kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Solemnitas, tadabur alam. Melihat ciptaanNya, menambah rasa syukur dan kecintaan padaNya. Ku teringat potongan ayat pada qur'an surat ali-Imron: 190 & 191 yang artinya,Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
Tak diragukan lagi begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan. Begitu banyak tanda kekuasaanNya. Alhamdulillah momen ini bisa menjadi penambah kecintaanku pada Allah. Semoga ini menjadi cinta yang hakiki dan abadi
Langganan:
Postingan (Atom)