Sekumpulan anak-anak berusia sekitar 10 tahun mengenakan kostum
tanaman atau hewan menari bersama di atas panggung sambil menyanyikan
potongan lagu yang sangat inspiratif,
“Semua orang punya impian.
Dari impian, datang harapan. Semua orang perlu impian. Dengan impian,
ada kekuatan. Impian menyinari hatimu bagai mentari, menerangi seluruh
duniamu. Impian membimbingmu ke jalan yang benar, memberimu keberanian
untuk melangkah maju”Kemudian Jerry, yang menjadi narator dalam pertunjukan tersebut menyampaikan narasinya,
“Sejak aku dilahirkan, aku punya impian. Impianku adalah…”
suara dalam adegan film tersebut berubah menjadi suara orang ketiga,
“Papah
dan mamah akhirnya datang ke pertunjukanku. Aku senang, tapi yang lebih
penting mereka menemukan ‘kunci’ yang dimaksud Pak Hao. Semua orang
punya kunci itu dalam diri mereka. Saat kita masih kecil, ada begitu
banyak dukungan dan pujian untuk membantu kita melewati rintangan. Kita
tidak sadar betapa beruntungnya kita saat itu. Seiring waktu berlalu,
dukungan dan pujian berubah seiring kita beranjak dewasa. Semua jadi
berbeda. Berikanlah lebih banyak pujian. Lihatlah sisi baik seseorang.
Apakah itu sulit? Semua orang butuh pujian. Tapi kenapa kita sering ragu
untuk sekedar memberi pujian? Pada diri setiap anak ada sisi gelap dan
ada sisi terang. Carilah sisi terang, dan semua yang baik akan muncul.
Ada pepatah berbunyi, ‘Barang berguna dipakai dengan salah akan jadi
tidak berguna. Barang berguna dipakai dengan benar akan jadi berguna.’
Kepala sekolah dan Pak Fu mengakui bakat kak Chengcai. Dan terciptalah
keajaiban. Dari sini, kita belajar pengakuan terhadap seseorang adalah
sumber kekuatan. Kak Chengcai tidak lagi tanpa harapan. Keajaiban ini
mungkin berasal dari sepatah kata yang paling sederhana, ekspresi, atau
tindakan yang paling kecil sekalipun. Kita tak pernah tahu apa yang bisa
kita ubah”
Cuplikan di atas merupakan scene penutup
dari film “I not stupid too”, sebuah film bergenre pendidikan dan
komedi dari Singapura tahun 2009 yang sarat akan esensi moral dan
pendidikan. Filmnya ringan, penuh humor, dan dapat memperkaya batin
kita.
Dari film ini, kita belajar akan pentingnya menghargai
kelebihan orang lain serta memuji sisi baik seseorang. Kita pun belajar
bagaimana pola asuh orang tua yang sangat memengaruhi perkembangan
psikis anak. Materi semata,bahkan amarah yang bersifat otoriter adalah nonsense,
bahkan dapat membuat anak memberontak.Yang anak butuhkan adalah
penghargaan dan kasih sayang terutama dari guru dan orang tua. Semoga
kita lebih bijak lagi dalam mendidik generasi penerus dan mengubah mindset kita untuk lebih menghargai kemampuan dan usaha seseorang.
Film ini sangat recomended. Anda dapat menontonnya di youtube dan search dengan kata kunci “Film pendidikan wajib ditonton I’m not stupid”.
Sebenarnya film tersebut adalah sequel dari film “I not stupid” namun saya belum menontonnya. Insyaallah saya akan men-share cuplikan inspiratif setelah saya selesai menontonnya
#ReviewFilm #Pendidikan #KasihSayang #Penghargaan #OrangTua #Anak-anak #PolaAsuh #Sekolah
Rabu, 29 Juni 2016
Rabu, 06 April 2016
Jadi ateis yuk?
Satu kata buat orang-orang ateis? “SELAMAT!” , “CONGRATULATION!”
lah kok gitu?iya, selamat! karena mereka telah selangkah lebih maju dari orang-orang lain. Orang-orang ateis berpikir! mereka tak segan mengkritisi dogma-dogma agamanya.
Mereka beragama bukan karena dogma…
Mereka beragama bukan karena orang tua mereka…
Mereka beragama bukan karena orang-orang di sekitarnya…
Mereka terhindar dari kesia-siaan dengan menyembah “false god”
Mereka terhindar dari perasaan “false peace”
Banyak orang beragama karena dogma,doktrin, dan keimanan buta.
Sedangkan orang ateis tidak. Mereka merasa ada ketidaklogisan dalam agamanya. Walaupun tidak semua logika berpikir mereka benar, namun setidaknya mereka telah berpikir. Dan saat mereka telah menemukan Tuhan sejati, maka mereka akan jadi pengiman sejati.
Iman sejati diperoleh atas proses berpikir, bukan hanya mengandalkan perasaan. Perasaan untuk menghayati dipakai setelah akal menemukan kehakikian Tuhan. Bahkan penyembah setan dan penyembah berhala pun merasakan kedamaian karena mereka menghayati bahwa yang mereka sembah adalah tuhan. Namun apakah kedamaian mereka sejati?
Orang ateis telah mengucapkan setengah dari kalimat syahadat, “laa ilaha”. Dan semoga mereka tetap pada dedikasinya mencari kebenaran akan Tuhan. Kelak suatu saat nanti mereka akan melengkapi kalimat syahadatnya dengan “illallah”. Merekalah aset berharga, memperoleh kebenaranNya dengan pencarian yang tekun. Dan insyaallah bersama-sama bergabung dalam perjuangan menegakkan syariat Islam. Melawan liciknya pemikiran Barat yang meracuni pemikiran dunia saat ini. Dan mewujudkan pemikiran serta menerapkan syariat Islam sebagai rahmatan lil alamin.
Selasa, 29 Maret 2016
Inilah Seruan mendirikan Daulah Islam
Generasi sekarang belum pernah menyaksikan Daulah Islam yang menerapkan Islam. Begitu pula generasi yang hidup pada akhir masa Daulah Islam (Daulah Utsmaniyah) yang berhasil diruntuhkan Barat. Mereka hanya dapat menyaksikan sisa-sisa negara tersebut dengan secuil sisa-sisa Pemerintahan Islam. Karena itu, sulit sekali bagi seorang muslim untuk memperoleh gambaran tentang Pemerintahan Islam yang mendekati fakta sebenarnya sehingga dapat disimpan dalam benaknya. Anda tidak akan mampu menggambarkan bentuk pemerintahan tersebut, kecuali dengan standar sistem demokrasi yang rusak yang anda saksikan, yang dipaksakan atas negeri-negeri Islam. Kesulitannya bukan hanya itu. Masih ada yang lebih sulit lagi yaitu mengubah benak (pemikiran) yang sudah terbelenggu oleh tsaqafah Barat. Tsaqafah tersebut merupakan senjata yang digunakan Barat untuk menikam Daulah Islam, dengan tikaman yang luar biasa, hingga mematikannya. Barat lalu memberikan senjata itu kepada generasi muda negara tersebut, dalam kondisi masih meneteskan darah “ibu” mereka yang baru saja terbunuh, sambil berkata dengan sombong, “Sungguh aku
telah membunuh ibu kalian yang lemah itu, yang memang layak dibunuh karena perawatannya yang buruk terhadap kalian. Aku janjikan kepada kalian perawatan yang akan membuat kalian bisa merasakan kehidupan bahagia dan kenikmatan yang nyata.” Kemudian, mereka mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan si pembunuh, padahal senjata sang pembunuh itu masih berlumuran darah ibu mereka. Perlakuan pembunuh itu kepada mereka seperti serigala yang membiarkan mangsanya lari, lalu dikejar lagi agar dapat ditangkap dan dimangsa. Mangsanya itu tidak akan bangun lagi kecuali diterkam kembali hingga darahnya mengucur atau dibanting ke dalam jurang, kemudian serigala itu memangsanya.
Bagaimana mungkin orang-orang yang benaknya telah terbelenggu tersebut dapat mengetahui bahwa senjata beracun yang pernah dipakai untuk mengakhiri Daulah Islam milik mereka
itu adalah senjata yang sama yang dapat menghabisi —selama mereka berpegang teguh kepadanya— kehidupan dan institusi mereka. Pemikiran-pemikiran yang mereka usung —seperti nasionalisme, sekularisme, dan ide-ide lain yang dipakai untuk menikam Islam— adalah sebagian racun yang sengaja dicekokkan oleh tsaqafah tersebut kepada mereka. Memahamkan kepada kita tentang berbagai sebab yang mendorongnya melakukan tindakan sadis tersebut, serta memperlihatkan kepada kita berbagai sarana yang digunakan untuk merealisir aksinya. Ternyata tidak ada sebab lain, kecuali dengan maksud untuk melenyapkan Islam dan tidak ada sarana yang paling penting, kecuali tsaqafah tersebut yang datang bersamaan dengan serangan para misionaris.
Kaum Muslim telah lupa tentang bahaya tsaqafah ini. Memang mereka memerangi penjajah, tetapi pada saat yang sama mereka pun mengambil tsaqafahnya. Padahal, tsaqafah itulah penyebab terjajahnya mereka, sekaligus terkonsentrasikannya penjajahan di negeri-negeri mereka. Selanjutnya, mereka menyaksikan betapa banyak pandangan-pandangannya yang saling bertentangan, rendah, hina, dan menjijikan. Mereka membalikkan punggungnya dari orang-orang asing —dengan mengklaim bahwa hal itu dilakukan untuk memerangi mereka— seraya mengulurkan tangan kepada Barat dari arah belakang dengan maksud untuk mengambil racun-racunnya yang mematikan itu, lalu menelannya. Akibatnya, mereka jatuh tersungkur di hadapannya dalam keadaan binasa. Orang-orang bodoh menyangka mereka adalah para syuhada yang gugur di medan perang. Padahal, mereka hanyalah petarung yang lupa dan sesat.
Apa sebetulnya yang mereka kehendaki? Apakah mereka menghendaki negara yang tidak berasaskan Islam, ataukah menginginkan banyaknya negara di negeri-negeri Islam? Sebetulnya Barat —sejak kekuasaan beralih kepadanya—, telah memberikan banyak negara kepada mereka untuk menuntaskan makarnya dalam menjauhkan Islam dari pemerintahan, memecah-belah negeri-negeri kaum Muslim, serta membius mereka dengan sikap phobi terhadap kekuasaan. Setiap saat, Barat selalu memberi mereka negara baru untuk semakin menyesatkan dan menambah perpecahan mereka. Barat selalu siap memberi mereka lebih banyak lagi, selama mereka masih mengusung ideologi dan pemahamannya karena mereka adalah pengikut setia Barat.
Persoalannya bukanlah mendirikan banyak negara, melainkan membangun negara yang satu di seluruh dunia Islam. Demikian juga persoalannya bukan mendirikan negara sembarang negara. Bukan pula membangun sebuah negara yang diberi sebutan Islam dan berhukum dengan selain yang diturunkan Allah. Bahkan juga bukan mendirikan sebuah negara yang dinamakan Islam dan berhukum dengan undang-undang Islam saja tanpa mengemban Islam sebagai qiyadah fikriyah (kepemimpinan ideologis). Sekali lagi, persoalannya bukan mendirikan sebuah negara semacam itu, melainkan membangun sebuah negara yang akan dapat melanjutkan kehidupan Islami yang terpancar dari akidah; sekaligus menerapkan Islam di tengah-tengah masyarakat, setelah terlebih dahulu Islam merasuk ke dalam jiwa, mantap di dalam akal, serta mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Daulah Islam bukanlah khayalan seseorang yang tengah bermimpi, sebab terbukti telah memenuhi pentas sejarah selama 13 abad. Ini adalah kenyataan. Keberadaan Daulah Islam merupakan sebuah kenyataan di masa lalu dan akan menjadi kenyataan pula di masa depan, tidak lama lagi. Sebab, faktor-faktor yang mendukung keberadaannya jauh lebih kuat untuk diingkari oleh jaman atau lebih kuat untuk ditentang. Saat ini telah banyak orang-orang yang berpikiran cemerlang. Mereka itu adalah bagian umat Islam yang sangat haus akan kejayaan Islam.
Daulah Islam bukan sekadar harapan yang dipengaruhi hawa nafsu, tetapi kewajiban yang telah Allah tetapkan kepada kaum Muslim. Allah memerintahkan mereka untuk menegakkannya
dan mengancam mereka dengan siksa-Nya jika mengabaika pelaksanaannya. Bagaimana mereka mengharapkan ridha Allah, sementara kemuliaan di negeri mereka bukan milik Allah, RasulNya, dan kaum Muslim? Bagaimana mereka akan selamat dari siksa-Nya, sementara mereka tidak menegakkan negara yang mempersiapkan pasukan, menjaga daerah-daerah perbatasan, melaksanakan hudud Allah dan menerapkan pemerintahan dengan segala hal yang telah Allah turunkan?
Karena itu, wajib atas kaum Muslim menegakkan Daulah Islam, sebab Islam tidak akan terwujud dengan bentuk yang berpengaruh kecuali dengan adanya negara. Demikian juga, negerinegeri mereka tidak dapat dianggap sebagai Negara Islam kecuali jika Daulah Islam yang menjalankan roda pemerintahannya.
Daulah Islam semacam ini, bukan sesuatu yang mudah (diwujudkan) dengan sekadar mengangkat para menteri —baik dari individu atau partai— lalu mereka menjadi bagian dalam struktur pemerintahan. Sesungguhnya jalan menuju tegaknya Daulah Islam dihampari onak dan duri, penuh dengan berbagai resiko, dan kesulitan. Belum lagi adanya tsaqafah non-Islam, yang akan menyulitkan; adanya pemikiran dangkal yang akan menjadi penghalang; dan pemerintahan yang tunduk pada Barat, yang membahayakan.
Sesungguhnya orang-orang yang meniti jalan dakwah Islam untuk mewujudkan Daulah Islam; mereka lakukan itu untuk meraih pemerintahan, yang akan mereka gunakan sebagai thariqah
dalam melanjutkan kehidupan Islam di negeri-negeri Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Karena itu, anda saksikan mereka tidak akan menerima pemerintahan parsial,
meskipun banyak hal yang mengodanya. Mereka juga tidak akan menerima pemerintahan yang sempurna, kecuali jika memberi peluang untuk menerapkan Islam secara revolusioner.
SUMBER : Pendahuluan buku Daulah Islam karya Taqiyuddin An-Nabhani
telah membunuh ibu kalian yang lemah itu, yang memang layak dibunuh karena perawatannya yang buruk terhadap kalian. Aku janjikan kepada kalian perawatan yang akan membuat kalian bisa merasakan kehidupan bahagia dan kenikmatan yang nyata.” Kemudian, mereka mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan si pembunuh, padahal senjata sang pembunuh itu masih berlumuran darah ibu mereka. Perlakuan pembunuh itu kepada mereka seperti serigala yang membiarkan mangsanya lari, lalu dikejar lagi agar dapat ditangkap dan dimangsa. Mangsanya itu tidak akan bangun lagi kecuali diterkam kembali hingga darahnya mengucur atau dibanting ke dalam jurang, kemudian serigala itu memangsanya.
Bagaimana mungkin orang-orang yang benaknya telah terbelenggu tersebut dapat mengetahui bahwa senjata beracun yang pernah dipakai untuk mengakhiri Daulah Islam milik mereka
itu adalah senjata yang sama yang dapat menghabisi —selama mereka berpegang teguh kepadanya— kehidupan dan institusi mereka. Pemikiran-pemikiran yang mereka usung —seperti nasionalisme, sekularisme, dan ide-ide lain yang dipakai untuk menikam Islam— adalah sebagian racun yang sengaja dicekokkan oleh tsaqafah tersebut kepada mereka. Memahamkan kepada kita tentang berbagai sebab yang mendorongnya melakukan tindakan sadis tersebut, serta memperlihatkan kepada kita berbagai sarana yang digunakan untuk merealisir aksinya. Ternyata tidak ada sebab lain, kecuali dengan maksud untuk melenyapkan Islam dan tidak ada sarana yang paling penting, kecuali tsaqafah tersebut yang datang bersamaan dengan serangan para misionaris.
Kaum Muslim telah lupa tentang bahaya tsaqafah ini. Memang mereka memerangi penjajah, tetapi pada saat yang sama mereka pun mengambil tsaqafahnya. Padahal, tsaqafah itulah penyebab terjajahnya mereka, sekaligus terkonsentrasikannya penjajahan di negeri-negeri mereka. Selanjutnya, mereka menyaksikan betapa banyak pandangan-pandangannya yang saling bertentangan, rendah, hina, dan menjijikan. Mereka membalikkan punggungnya dari orang-orang asing —dengan mengklaim bahwa hal itu dilakukan untuk memerangi mereka— seraya mengulurkan tangan kepada Barat dari arah belakang dengan maksud untuk mengambil racun-racunnya yang mematikan itu, lalu menelannya. Akibatnya, mereka jatuh tersungkur di hadapannya dalam keadaan binasa. Orang-orang bodoh menyangka mereka adalah para syuhada yang gugur di medan perang. Padahal, mereka hanyalah petarung yang lupa dan sesat.
Apa sebetulnya yang mereka kehendaki? Apakah mereka menghendaki negara yang tidak berasaskan Islam, ataukah menginginkan banyaknya negara di negeri-negeri Islam? Sebetulnya Barat —sejak kekuasaan beralih kepadanya—, telah memberikan banyak negara kepada mereka untuk menuntaskan makarnya dalam menjauhkan Islam dari pemerintahan, memecah-belah negeri-negeri kaum Muslim, serta membius mereka dengan sikap phobi terhadap kekuasaan. Setiap saat, Barat selalu memberi mereka negara baru untuk semakin menyesatkan dan menambah perpecahan mereka. Barat selalu siap memberi mereka lebih banyak lagi, selama mereka masih mengusung ideologi dan pemahamannya karena mereka adalah pengikut setia Barat.
Persoalannya bukanlah mendirikan banyak negara, melainkan membangun negara yang satu di seluruh dunia Islam. Demikian juga persoalannya bukan mendirikan negara sembarang negara. Bukan pula membangun sebuah negara yang diberi sebutan Islam dan berhukum dengan selain yang diturunkan Allah. Bahkan juga bukan mendirikan sebuah negara yang dinamakan Islam dan berhukum dengan undang-undang Islam saja tanpa mengemban Islam sebagai qiyadah fikriyah (kepemimpinan ideologis). Sekali lagi, persoalannya bukan mendirikan sebuah negara semacam itu, melainkan membangun sebuah negara yang akan dapat melanjutkan kehidupan Islami yang terpancar dari akidah; sekaligus menerapkan Islam di tengah-tengah masyarakat, setelah terlebih dahulu Islam merasuk ke dalam jiwa, mantap di dalam akal, serta mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Daulah Islam bukanlah khayalan seseorang yang tengah bermimpi, sebab terbukti telah memenuhi pentas sejarah selama 13 abad. Ini adalah kenyataan. Keberadaan Daulah Islam merupakan sebuah kenyataan di masa lalu dan akan menjadi kenyataan pula di masa depan, tidak lama lagi. Sebab, faktor-faktor yang mendukung keberadaannya jauh lebih kuat untuk diingkari oleh jaman atau lebih kuat untuk ditentang. Saat ini telah banyak orang-orang yang berpikiran cemerlang. Mereka itu adalah bagian umat Islam yang sangat haus akan kejayaan Islam.
Daulah Islam bukan sekadar harapan yang dipengaruhi hawa nafsu, tetapi kewajiban yang telah Allah tetapkan kepada kaum Muslim. Allah memerintahkan mereka untuk menegakkannya
dan mengancam mereka dengan siksa-Nya jika mengabaika pelaksanaannya. Bagaimana mereka mengharapkan ridha Allah, sementara kemuliaan di negeri mereka bukan milik Allah, RasulNya, dan kaum Muslim? Bagaimana mereka akan selamat dari siksa-Nya, sementara mereka tidak menegakkan negara yang mempersiapkan pasukan, menjaga daerah-daerah perbatasan, melaksanakan hudud Allah dan menerapkan pemerintahan dengan segala hal yang telah Allah turunkan?
Karena itu, wajib atas kaum Muslim menegakkan Daulah Islam, sebab Islam tidak akan terwujud dengan bentuk yang berpengaruh kecuali dengan adanya negara. Demikian juga, negerinegeri mereka tidak dapat dianggap sebagai Negara Islam kecuali jika Daulah Islam yang menjalankan roda pemerintahannya.
Daulah Islam semacam ini, bukan sesuatu yang mudah (diwujudkan) dengan sekadar mengangkat para menteri —baik dari individu atau partai— lalu mereka menjadi bagian dalam struktur pemerintahan. Sesungguhnya jalan menuju tegaknya Daulah Islam dihampari onak dan duri, penuh dengan berbagai resiko, dan kesulitan. Belum lagi adanya tsaqafah non-Islam, yang akan menyulitkan; adanya pemikiran dangkal yang akan menjadi penghalang; dan pemerintahan yang tunduk pada Barat, yang membahayakan.
Sesungguhnya orang-orang yang meniti jalan dakwah Islam untuk mewujudkan Daulah Islam; mereka lakukan itu untuk meraih pemerintahan, yang akan mereka gunakan sebagai thariqah
dalam melanjutkan kehidupan Islam di negeri-negeri Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Karena itu, anda saksikan mereka tidak akan menerima pemerintahan parsial,
meskipun banyak hal yang mengodanya. Mereka juga tidak akan menerima pemerintahan yang sempurna, kecuali jika memberi peluang untuk menerapkan Islam secara revolusioner.
SUMBER : Pendahuluan buku Daulah Islam karya Taqiyuddin An-Nabhani
Jumat, 25 Maret 2016
Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib dengan Fathimah Az-Zahra
Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ‘Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ‘Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ‘Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. “Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ‘Ali.
“Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
‘Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ‘Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ‘Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ‘Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ‘Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, “Aku datang bersama Abu Bakar dan ‘Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ‘Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ‘Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ‘Umar melakukannya. ‘Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
‘Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. “Wahai Quraisy”, katanya. “Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ‘Umar di balik bukit ini!” ‘Umar adalah lelaki pemberani. ‘Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ‘Umar jauh lebih layak. Dan ‘Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti
Ia mengambil kesempatan
Itulah keberanian
Atau mempersilakan
Yang ini pengorbanan
Maka ‘Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ‘Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ‘Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ‘Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
“Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. “Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. “
“Aku?”, tanyanya tak yakin.
“Ya. Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
“Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
‘Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
“Engkau pemuda sejati wahai ‘Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, “Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
“Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
“Entahlah..”
“Apa maksudmu?”
“Menurut kalian apakah ‘Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
“Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
“Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”
Dan ‘Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ‘Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
‘Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ‘Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu” ini merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan mereka berdua.
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”
Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)
Asyraf Seferagic <asyrafseferagic@gmail.com>
Source : http://www.eramuslim.com/oase-iman/kisah-cinta-ali-bin-abi-thalib-da-fathimah-az-zahra.htm#.VvWWOzF1DMx
Source : http://www.eramuslim.com/oase-iman/kisah-cinta-ali-bin-abi-thalib-da-fathimah-az-zahra.htm#.VvWWOzF1DMx
Minggu, 31 Januari 2016
Excellence Preeceds Success
"kejarlah keunggulan (excellence) maka sukses akan mengikuti"
quote inspirasional tersebut saya dapatkan dari film komedi favorit saya, 3 Idiots. Film tersebut memang bergenre komedi namun tidak luput dari esensi di dalamnya. Dan salah satu nilai moril yang saya jadikan pegangan adalah setiap hal yang kita lakukan baik itu pendidikan, pekerjaan, maupun hobbi atau Passion haruslah beroritentasi untuk meraih keunggulan. Baru sukses pun akan mengikuti.
Sukses memang bisa diartikan bukan hanya dari nilai materil namun sebuah tolak ukur seseorang telah berhasil dalam suatu bidang misalnya jadi jutawan bisnis, menjadi seniman terkenal, ataupun arsitek dengan rancangan yang indah. Namun kebanyakan orang mempersepsikan sukses sebagai tujuan akhir yang membawa mereka kepada kualitas hidup yang lebih baik seperti menjadi kaya, memiliki jabatan tinggi, dsb.
Bagi saya, sukses hanyalah 'bonus'. Seperti saat kita menjalankan pola hidup sehat, maka tubuh ideal adalah bonus. Namun esensi dari tujuan tersebut adalah untuk hidup sehati. Begitu pun dengan kita belajar. Apakah tujuan dari belajar tersebut? mendapatkan nilai bagus sebagai tolak ukur kesuksesan kita belajar? tidak. Nilai hanyalah penilaian yang diberi pengajar terhadap kita. Namun esensi perjuangan kita belajar dengan tujuan MENUNTUT ILMU YANG BERMANFAAT hanyalah kita dan Tuhan yang bisa mengukur. Dengan ilmu yang kita dapat tersebut, nilai bagus pun akan menyusul. Daripada nilai bagus didapat dengan cara dan tujuan yang keliru.
Jika kita mengejar keunggulan, kita pasti akan dibutuhkan banyak orang karena keahlian kita dalam suatu bidang. Contoh dalam bidang studi yang terkadang orang anggap sebelah mata seperti perpustakaan. Orang menganggap perpustakaan "apa sih perpustakaan cuma lihat-lihatin buku, bla3". Namun jika kita menjadi seorang 'master' dalam bidang perpustakaan, bukan tidak mungkin kita bisa menjadi kepala Perpustakaan Oxford.
Dengan keahlian kita dalam bidang tertentu, kita akan dibutuhkan orang dan bermanfaat bagi orang banyak. Dan sukses seperti yang orang-orang bayangkan -- Hidup makmur, kaya raya, terkenal, memiliki kekuasaan, dsb -- akan menyusul.. So work hard for excellence and dont forget to enjoy!
PEACE!
quote inspirasional tersebut saya dapatkan dari film komedi favorit saya, 3 Idiots. Film tersebut memang bergenre komedi namun tidak luput dari esensi di dalamnya. Dan salah satu nilai moril yang saya jadikan pegangan adalah setiap hal yang kita lakukan baik itu pendidikan, pekerjaan, maupun hobbi atau Passion haruslah beroritentasi untuk meraih keunggulan. Baru sukses pun akan mengikuti.
Sukses memang bisa diartikan bukan hanya dari nilai materil namun sebuah tolak ukur seseorang telah berhasil dalam suatu bidang misalnya jadi jutawan bisnis, menjadi seniman terkenal, ataupun arsitek dengan rancangan yang indah. Namun kebanyakan orang mempersepsikan sukses sebagai tujuan akhir yang membawa mereka kepada kualitas hidup yang lebih baik seperti menjadi kaya, memiliki jabatan tinggi, dsb.
Bagi saya, sukses hanyalah 'bonus'. Seperti saat kita menjalankan pola hidup sehat, maka tubuh ideal adalah bonus. Namun esensi dari tujuan tersebut adalah untuk hidup sehati. Begitu pun dengan kita belajar. Apakah tujuan dari belajar tersebut? mendapatkan nilai bagus sebagai tolak ukur kesuksesan kita belajar? tidak. Nilai hanyalah penilaian yang diberi pengajar terhadap kita. Namun esensi perjuangan kita belajar dengan tujuan MENUNTUT ILMU YANG BERMANFAAT hanyalah kita dan Tuhan yang bisa mengukur. Dengan ilmu yang kita dapat tersebut, nilai bagus pun akan menyusul. Daripada nilai bagus didapat dengan cara dan tujuan yang keliru.
Jika kita mengejar keunggulan, kita pasti akan dibutuhkan banyak orang karena keahlian kita dalam suatu bidang. Contoh dalam bidang studi yang terkadang orang anggap sebelah mata seperti perpustakaan. Orang menganggap perpustakaan "apa sih perpustakaan cuma lihat-lihatin buku, bla3". Namun jika kita menjadi seorang 'master' dalam bidang perpustakaan, bukan tidak mungkin kita bisa menjadi kepala Perpustakaan Oxford.
Dengan keahlian kita dalam bidang tertentu, kita akan dibutuhkan orang dan bermanfaat bagi orang banyak. Dan sukses seperti yang orang-orang bayangkan -- Hidup makmur, kaya raya, terkenal, memiliki kekuasaan, dsb -- akan menyusul.. So work hard for excellence and dont forget to enjoy!
PEACE!
Introduction to the new philosopical perspective "GREGETISME"
Filsafat. sering kali diartikan sebagai perenungn yang mendalam untuk mendapatkan hakikat kebenaran sejati yg membuat kita menjadi semakin bijak. Hasil dari filsafat merupakan buah dari pemikiran kita dan akhirnya akan kita jadikan sebagai pandangan hidup kita. Filsafat telah ada sejak manusia mulai bertanya hal-hal terkait dengan dirinya, kehidupan, dan alam semesta. Pertanyaan seperti "Siapakah sebenarnya manusia itu?" , "Terbuat dari apa alam semesta ini?" , "Bagaimana alam semesta ini berawal dan berakhir?", dsb... Dan dengan semakin meningkatnya kognisi manusia berdasarkan teori evolusi, pertanyaan-pertanyaan lain muncul, kemudian terjawab, pertanyaan muncul dan terjawab. Begitu pula selanjutnya.
Dalam filsafat klasik, ada dua aliran besar yang saling bertentangan, yaitu Idealisme dan Materialisme. Perbedaan mendasar keduanya adalah tentang hakikat sesungguhnya dari esensi manusia dan kehidupannya. Idealisme menganggap, ide/pikiran/jiwa adalah hakikat manusia sesungguhnya. Manusia adalah makhluk berpikir atau animal rationale. Dengan jiwa yang berpikir, manusia mampu mengekspresikan semua buah pikirannya termasuk memikirkan hal-hal yang berbau materi, oleh sebab itu, jiwa adalah hakikat tertinggi manusia.
Berlawanan dengan Idealisme, Materialisme menganggap materi atau fisik adalah hakikat sebenarnya. Kaum Materialis berpendapat bahwa semua yang ada di alam semesta termasuk manusia tidak lain merupakan kumpulan materi yang bersifat matematis dan mekanis. Bahkan 'alam jiwa' seperti yang diutarakan kaum idealis tidak lebih dari reaksi biokomia dalam tubuh manusia. Proses berpikir adalah proses kerja otak (bersifat materi). Kebahagiaan tidak lain adalah aktivitas hormon-hormon yang bertanggung jawab demi kebahagiaan seperti dopamin, endorfin, dan serotonin. Begitu pula cinta yang hanya aktivitas organ seksual yang melahirkan perasaan cinta yang menggebu-gebu.
Pada postingan awal saya kali ini, saya akan memperkenalkan aliran filsafat saya, yaitu GREGETISME.yaps GREGETISME.. kata 'greget' pertama kali saya tahu adalah kata yang diucapkan Mad Dog, salah satu tokoh dalam film action The Raid. Dan kemudian kata 'greget' dan Mad Dog sendiri menjadi artis meme setelah film The Raid tayang. Kata greget sendiri dikonotasikan sebagai kata yang menggambarkan tindakan atau hal-hal yang berbau ekstrim, menantang namun dan tidak lazim. Contoh penggunaan kata greget ini adalah. "Qurban pake domba atau sapi gak ada gregetnya. gue dong qurban pake harimau benggala" atau dalam kalimat "Lihat nih gue lagi nyikatin gigi buaya". Namun hal-hal berbau ekstrim tersebut dikontasikan sebagai candaan dan bukanlah perihal yang menakutkan. Sehingga penggunaan kata greget dapat pula digunakan sebagai bahan ledekan "greget juga lu" untuk meledek tindakan seseorang yang 'menantang'.
Dalam filsafat GREGETISME, hidup bukanlah hidup yang sesungguhnya bila tidak dijalankan dengan penuh rasa greget. Melakukan hal yang tidak biasa, terkadang tidak sesuai dengan nilai dan norma setempat namun mampu membuat orang-orang yang melihatnya takjub sambil berkata "WOW. greget sekali". Contoh kongkrit seseorang yang berpegang pada gregetisme dapat kita jumpai pada sosok 'Ranchoddas' dalam film 3 Idiots. Atau saat kita hendak mengendarai sepeda,jika orang lain menunggangi sepedanya, maka kita yang membawa sepeda tersebut di atas bahu kita. Atau kita rela berjuang memanjat pagar yang ada kawat besi sampai 'junior' kita terluka parah demi bertemu sang doi di rumahnya malam-malam..
Memang hal-hal yang 'greget' terkadang adalah hal-hal yang kita pernah lakukan, namun kita tidaklah pernah merasa bahwa itu greget. Yah memang rasa greget tak perlu banyak dipikirkan, namun cukup dirasakan dan dibawa enjoy! Dan saya hanya memperkenalkan satu istilah. Semoga belum ada orang yang mencetuskan hal ini.
PEACE~
Dalam filsafat klasik, ada dua aliran besar yang saling bertentangan, yaitu Idealisme dan Materialisme. Perbedaan mendasar keduanya adalah tentang hakikat sesungguhnya dari esensi manusia dan kehidupannya. Idealisme menganggap, ide/pikiran/jiwa adalah hakikat manusia sesungguhnya. Manusia adalah makhluk berpikir atau animal rationale. Dengan jiwa yang berpikir, manusia mampu mengekspresikan semua buah pikirannya termasuk memikirkan hal-hal yang berbau materi, oleh sebab itu, jiwa adalah hakikat tertinggi manusia.
Berlawanan dengan Idealisme, Materialisme menganggap materi atau fisik adalah hakikat sebenarnya. Kaum Materialis berpendapat bahwa semua yang ada di alam semesta termasuk manusia tidak lain merupakan kumpulan materi yang bersifat matematis dan mekanis. Bahkan 'alam jiwa' seperti yang diutarakan kaum idealis tidak lebih dari reaksi biokomia dalam tubuh manusia. Proses berpikir adalah proses kerja otak (bersifat materi). Kebahagiaan tidak lain adalah aktivitas hormon-hormon yang bertanggung jawab demi kebahagiaan seperti dopamin, endorfin, dan serotonin. Begitu pula cinta yang hanya aktivitas organ seksual yang melahirkan perasaan cinta yang menggebu-gebu.
Pada postingan awal saya kali ini, saya akan memperkenalkan aliran filsafat saya, yaitu GREGETISME.yaps GREGETISME.. kata 'greget' pertama kali saya tahu adalah kata yang diucapkan Mad Dog, salah satu tokoh dalam film action The Raid. Dan kemudian kata 'greget' dan Mad Dog sendiri menjadi artis meme setelah film The Raid tayang. Kata greget sendiri dikonotasikan sebagai kata yang menggambarkan tindakan atau hal-hal yang berbau ekstrim, menantang namun dan tidak lazim. Contoh penggunaan kata greget ini adalah. "Qurban pake domba atau sapi gak ada gregetnya. gue dong qurban pake harimau benggala" atau dalam kalimat "Lihat nih gue lagi nyikatin gigi buaya". Namun hal-hal berbau ekstrim tersebut dikontasikan sebagai candaan dan bukanlah perihal yang menakutkan. Sehingga penggunaan kata greget dapat pula digunakan sebagai bahan ledekan "greget juga lu" untuk meledek tindakan seseorang yang 'menantang'.
Dalam filsafat GREGETISME, hidup bukanlah hidup yang sesungguhnya bila tidak dijalankan dengan penuh rasa greget. Melakukan hal yang tidak biasa, terkadang tidak sesuai dengan nilai dan norma setempat namun mampu membuat orang-orang yang melihatnya takjub sambil berkata "WOW. greget sekali". Contoh kongkrit seseorang yang berpegang pada gregetisme dapat kita jumpai pada sosok 'Ranchoddas' dalam film 3 Idiots. Atau saat kita hendak mengendarai sepeda,jika orang lain menunggangi sepedanya, maka kita yang membawa sepeda tersebut di atas bahu kita. Atau kita rela berjuang memanjat pagar yang ada kawat besi sampai 'junior' kita terluka parah demi bertemu sang doi di rumahnya malam-malam..
Memang hal-hal yang 'greget' terkadang adalah hal-hal yang kita pernah lakukan, namun kita tidaklah pernah merasa bahwa itu greget. Yah memang rasa greget tak perlu banyak dipikirkan, namun cukup dirasakan dan dibawa enjoy! Dan saya hanya memperkenalkan satu istilah. Semoga belum ada orang yang mencetuskan hal ini.
PEACE~
Langganan:
Postingan (Atom)