Rabu, 27 Maret 2019

Sehangat Pelukan Ibu

Hei.. temanku bilang, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Temanku sangat suka menulis. Ia sering membacakan tulisannya padaku. Keren! Karyanya pun sudah bisa dibanggakan. Sekarang ku coba untuk menulis. Dimulai dari menulis kisahku sendiri..

Aku bukanlah seorang yang popular, bahkan orang popular pun mungkin suatu saat akan terlupakan juga. Aku hanyalah orang biasa, dengan harapan luar biasa. Harapan yang disematkan oleh orang tersayang, ibuku. Ku hidup untuk berjuang dengan harapan itu.

Well, it's my story. Dimulai dari tempat ku menjajaki dunia baru. Sekolah

"Ehh liat, bro. ada cewek cakep... Perhatiin gak tadi dia senyum ke gue?" Celetuk Beni, salah seorang kawan baikku di SMA Al-Fatih, tempatku sekolah sekarang. Celetukan Beni sontak memicu reaksi ketidaksetujuan dari kawan-kawan yang lain.. "Apaansih. geer banget. kelamaan ngejomblo lu yaa". Ku terdiam. hening di tengah riuh canda kawan-kawan. Merasa sepi di tengah keramaian. Ku membatin, "Cakep, cantik, manis, sexy, apalah itu.. Ku tak paham definisi kata-kata tersebut. Jangan kan paham, tahu pun tidak."

Itulah bagaimana orang-orang sekitar memberi label kepada perempuan yang dianggap menarik. Aku bukan orang yang tidak tertarik pada perempuan. Suara lembut, sikap yang hangat serta ramah, kecerdasannya, hingga aroma wangi yang khas yang mampu membuatku jatuh hati pada perempuan. Setidaknya, selalu ada yang berbeda saat ku mengindera atribut-atribut tersebut.

Perempuan yang saat ini ku berharap ia bisa tahu perasaanku padanya bernama Finka. Semua atribut di atas melekat padanya. Ku teringat saat New Year Camp Januari lalu. Kala itu ku terkena hipotermia. Ku menggigil kala hujan turun di malam itu. Kawan-kawan setenda ku yakni Beni, Azhar, dan Anwar sontak panik. Mereka refleks memberikan selimut-selimut hangat mereka untuk dikenakan padaku. Aku tetap menggigil. Hangatnya selimut yang membalut kulitku tak bisa mengalahkan sensasi dingin dalam tubuhku.

Hingga ku dengar suara jejak kaki dari arah luar. Suara seperti sepatu boot yang melangkah pelan di tengah tanah-tanah yang gembur karena hujan. "Hei, Finka" sahut Azhar memanggil Finka dari dalam tenda. Suara sepatu boot yang beradu dengan tanah gembur semakin mendekat. Finka melangkah mendekati tenda. Suara pintu tenda terbuka. "Hei, kalian belum tidur? Ini Zayn kenapa? menggigil gini, mukanya juga pucat. Panas pula" Gadis yang bernama Finka kini tengah meraba keningku. Mungkin mengecek suhu tubuhku. Kulitnya lembut, selembut selimut di hotel bintang lima. Suaranya tak kalah lembut, meneduhkan, menghujam dada. Sontak sensasi dingin yang ku rasakan diganti oleh sensasi yang membingungkan. Ku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Terletak di dalam dada. Bukan, bukan penyakit jantung atau lainnya. Namun rasa bahagia, tenang dan deg-degan berbaur dalam harmoni. Sungguh rasa yang tak biasa. Apakah ini yang orang sebut jatuh cinta? Entahlah.

"Ya ampun.. panas banget badanmu.. sebentar-sebentar, aku air hangat yang baru ku masak". Finka keluar tenda mengambil air panas, lalu tak sampai dua menit ia sudah kembali untuk mengompresku. "Ini ada air hangat. Tadinya aku mau pakai untuk rebus mie."Finka perlahan menempelkan kain kompres ke atas keningku sambil menyuruhku berbaring. "Nahh sekarang kamu istirahat ya. Yang lainnya juga tidur, kasihan pasti Zayn gak bisa tidur gara-gara berisik sama kalian!" Finka lalu mengambil panci berisi air panas dan meninggalkan tenda kami.

Suara lembut Finka, kepedulian Finka padaku yg tengah sakit membuatku kagum padanya. Rasa kagum ini berbalut nyaman ketika Finka mengompresku. Ia tahu bagian mana yang harus 'diobati' dengan kompres tersebut. Kain handuk kecil tersebut dengan lembut mengenai keningku. Walaupun teksturnya agak aksar, namun tak terasa karena tekanan lembut yang diberikan Finka. Bagaimana Finka menaruh tubuhku agar berbaring mengingatkanku pada perlakuan almarhumah ibuku ketika aku sakit saat kecil.

Ibuku selalu bernyanyi 'Nang Zayn putra ummi" sambil mengelus-elus rambutku. Lembutt sekali. Ku ingat sebelum terlelap ibu selalu memelukku. Itulah saat-saat terbaik masa kecilku. Ibu yang selalu membantuku menghapus air mata setiap aku pulang bermain dengan teman-temanku yg suka mengejekku. Aku tak tahu bagaimana rupa dari ibuku. Tapi aku tahu bahwa berada di pelukan ibu adalah saat terbaik dalam hidupku. Dan kini, perlakuan lembut tersebut aku rasakan kembali.

Ngomong-ngomong soal ibu, dia yang selalu bisa memperkenalkanku kepada dunia. Dengan keterbatasanku, ibu mampu membuatku merasa lebih. Suatu ketika, di taman kota. Di pagi hari yang cerah, udaranya sejuk sekali. Ku bisa mendengar suara tawa riang anak-anak seusia ku yang sedang bermain. Ku menduga  mereka sedang main kejar-kejaran.
"Awas kamu yaa, kalo dapet tau rasa loh" Ujar seorang anak
"Blee ngimpi mau ngejar aku hahaha" Balas anak lainnya
Tak lama setelah itu, suara wanita dewasa memanggil mereka, "sayang kita sarapan dulu yuk. Ibu bawain nasi goreng kesukaan kalian."

Mereka yang ditawari nasi goreng, tapi mengapa aku yang lapar? haha. aku memang belum sarapan kala itu. Pucuk di nasi goreng, ibu pun tiba. Seakan memahami maksud lidahku yang tak sadar menjulur membayangkan menyantap nasi goreng, ibu menyuruhku membuka mulut. Dan yap, nasi goreng keju terlezat di dunia mendarat di dalam mulutku. "Gimana, enak?" tanya ibu.. "Wenaakk bwangett.. Zayn sayang ibu" Aku yang masih mengunyah makanan dengan semangat memuji masakan ibuku lalu memeluknya erat. Ibuku seketika mengelus-elus kepalaku. Elusan lembut khas ibu. "Zayn sayang ibu. Zayn mau terus deket sama ibu" batinku dalam dekapan peluk ibu.


Fajar menyingsing. Aku perlahan bangun dari tidurku dengan kain kompres masih menempel di keningku. Ku lepaskan kain kompres, mencoba duduk, perhalan mengumpulkan nyawa. Alhamdulillah satu hari lagi kesempatan hidup diberikan oleh Tuhan. Ku mencoba membangunkan kawan-kawanku tuk solat subuh berjama'ah. Ku raba-raba sekitar. ku pukul-pukul perlahan Sleeping bag kawan-kawanku. "Bangun hei. bangun." Ku rapihkan sleeping bag bekasku tidur. Ku raba ujung ke ujung sleeping bag untuk melipatnya. Kawan-kawanku pun sudah bangun. Terdengar suara Anwar membuka pintu tenda.

Ku hirup udara pagi. Hemm segar sekali. Nikmat Tuhanmu mana lagi yang kau dustakan? potongan ayat dari surat favoritku dalam al-Qur'an. Ku bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat subuh berjama'ah dengan kawan-kawanku. Kebetulan sumber mata air hanya selemparan batu dari tenda. Sebuah sungai jernih yang suara gemercik airnya bisa terdengar dari tendaku. Tanah pagi hari itu cukup licin setelah semalam hujan. Anwar menuntunku berjalan yang tadi hampir jatuh. Kontur tanah tak selalu mulus. Tanah bebatuan, terjal, dan licin menjadi pijakanku menuju sungai.

Setibanya di sungai, Anwar menuntunku duduk di batu untuk berwudhu. Aku mulai mencelupkan kedua tanganku ke sungai. Berrr, dingin sekali. Sensasi dingin yang menusuk kedua lenganku. Ku usapkan perlahan air ke bagian tubuh yang diusap saat wudhu. Air yang menjadi tidak sedingin pertama kali ku menyentuhnya. Ahh segar sekali. Pas untuk menjadi spirit booster pagi ini.

Yang menjadi imam solat subuh berjama'ah adalah Azhar. Dia memang terkenal dengan bacaan al-Qur'an yang baik dan dikenal sebagai anak paling alim di antara kawan-kawanku. Azhar membaca surat al-Waqi'ah. Suara yang lembut nan merdu menghujam dadaku. Ku tersentuh saat Azhar sampai pada ayat 86-87, "Fa lawlaa inkuntum ghoiro madiinin. Tarji'u nahaa inkuntum shodiqin" yang artinya, "Wahai manusia, sekiranya benar bahwa kalian tidak dapat dikuasai oleh Tuhan, tentu kalian dapat mengembalikan nyawa kalian yang telah dicabut, jika kalian memang berkuasa atas diri kalian." Pikiranku langsung menuju pada almarhumah ibu. Ibu bukanlah milikku, bahkan dirinya tak punya kuasa. Allah yang memiliki segalanya, termasuk ibu. Mungkin Allah lebih sayang ibu. Tak terasa air mataku mulai menetes, aku teringsak dalam tangis. Aku rindu ibu, semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi ibu.

Salam menandai berakhirnya solat subuh berjama'ah. Hari masih gelap. Belum ada tanda kehidupan warga setempat. Anwar mengajak kami berkunjung ke bukit dekat tenda kami. Katanya di sana pemandangannya bagus, apalagi saat sunrise. Kami pun bergegas ke tenda mengambil bahan makanan, kompor, dan peralatan piknik lain. Kami berencana menjadikan sunrise sebagai latar berfoto dan sarapan bersama.

Kami pun mengajak Finka dan 2 orang kawannya, Putri dan Debi yang tidur di tenda yang berbeda. Saya dituntun oleh Anwar melewat medan yang lebih mulus daripada saat kami menuju sungai. Walau begitu, tanah yang licin dan menanjak menjadi tantangan tersendiri. Setelah berjalan kurang lebih 20 menit, akhirnya kami sampai di puncak bukit.

Kami menggelar tikar dan menyiapkan kompor serta peralatan lain. Kami bertujuh duduk di permukaan tanah berumput yang datar. "Gimana, Zayn masih sakit kah?" Finka bertanya, mencoba membuka percakapan. "Oh alhamdulillah, Fin. Baik hehe." Balasku. "Iyalah pasti baik, semalam dirawat sama Finka haha." Beni berusaha menggodaku. "Apaansih. Liat orang sakit masa didiemin aja." Jawab Finka seolah mewakili suaraku. "Hei liat tuh." Aku mendengar suara Azhar seperti hendak menunjukkan sesuatu. "Wahh indah bangett." Putri seperti terkagum pada sesuatu. Ku membatin, "Ada apa?". Seolah tahu isi pikiranku, Anwar berbisik menjelaskan, "Sunrise, Zayn. Matahari mulai terbit". Lalu semua kawan-kawanku berdiri dan berjalan menghampiri tepi bukit. Tempat paling pas melihat sunrise.

Ku memang tak pernah tahu betapa indahnya sunrise. Namun aku selalu merindukan matahari terbit. Kehangantan yang membawa harapan. Harapan bahwa setiap insan bisa menjadi lebih baik di hari itu. Kehangatan itu perlahan ku rasakan. Ku bisa merasakan sinarnya, menghangatkan kebersamaan kami di atas bukit. Ku bisa mendengar canda tawa kawan-kawanku, celetukan Beni, nasihat-nasihat bijak Azhar, dan bagaimana Anwar menjadi perangkul semua kawan-kawanku. Sesekali ada yang meminta berfoto bersama dengan latar belakang pemandangan pagi. Alhamdulillah. Pagi ini, matahari memeluk hangat kami dengan sinarnya. Menjadi saksi persahabatan kami.

Hangatnya matahari memang aku sukai. Hangatnya adalah pancaran kasih sayang yang tulus. Tak pernah lelah menerangi kehidupan milyaran insan tanpa harap kembali. Persis. Persis seperti almarhumah ibu. Aku memang tak pernah bisa melihat ibu dan dunia sekitar. Orang-orang sering bercerita bahwa ibu seperti sosok malaikat. Ibu cantik, baik, ramah, dan selalu lembut pada semua orang. Tak ada yang membenci ibu. Semua orang menangis dan merasa kehilangan saat ibu meninggal 2 tahun lalu. Ibu meninggal karena ditabrak pengendara mabuk. Itulah ketentuan Allah, ku tak bisa protes.

Zaynal Muttaqin. Itulah namaku. Pemberian ibu. Artinya perhiasan orang-orang bertaqwa. Terselip doa dan harapan besar ibuku dalam namaku. Insya Allah akan ku jaga harapan itu dengan menjadi seindah-indah perhiasanNya. Zayn sayang ibu.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar