Selasa, 14 Mei 2019

Kenyaman Itu

Aku masih kekanak-kanakan, jauh dari kata dewasa. Ku masih senang bermain games, prokrastinasi dalam mengerjakan tugas, dan ibadah yang belum istiqomah. Ditambah aku yang belum mandiri secara finansial, hidup masih bergantung orang tua, belum menjadi manusia yang bermanfaat banyak bagi sesama. Semua prasyarat sebagai manusia yang dewasa dan matang belum tersemat padaku. Ku sadari itu. Mengurus diri saja ku belum mampu, bagaimana mengurusi anak orang? dalam hal ini menjadi imam bagi si dia. Si gadis eudaimonia.

Tadi di mata kuliah yang mempertemukan ku dengannya untuk pertamakali, akhirnya aku bisa ngobrol dengannya setelah berminggu-minggu tak bertatap muka. Ku mulai basa-basi mengomentari pakaiannya yang mengenakan pakaian nuansa merah cerah. "Tumben pak baju warna terang, biasanya gelap terus".. Percakapan pun terus mengalir dari mulai candaan receh hingga ke topik yang lebih berbobot. Kami mengobrol tentang al-Qur'an, curhatan si teteh tentang masa lalunya, hingga sindiran untuk segera menikah. Perbincangan terpanjang adalah curhatannya tentang masa lalu, mengenai ceritanya yang terlambat untuk lulus. Entah mengapa aku bisa memancing ia untuk bercerita. Entah kenapa ia bercerita mengalir begitu saja. Dan entah kenapa aku begitu menikmatinya bercerita. Ku tatap wajah manisnya yang sendu saat bercerita, mungkin karena ini topik sensitif. Ku dengarkan setiap kata yang terlontar. Senyum tipis ku arahkan padanya, "semangat tetehku!"

Setelah lama ku tak berinteraksi dengannya, ku merasakan hal seperti saat pertama kali ku mengenalnya. Kenyaman dalam berinteraksi. Dalam 2 malam terakhir sebelum kami mengobrol langsung, kami memang chatting via DM instagram. Yahh topik-topik receh dan sangat unvaedah ku bahas bersamanya. Hal-hal kecil yang bisa membuatnya senang. Ku bahas tentang kucing yang menolak makan indomie, mengancam menelpon ayahnya karena tak kunjung tidur, mewanti2 agar ayahnya berhati-hati saat ngisi kajian karena bodyguardnya bukan aku. Topik2 tsb bobotnya kalah jauh dibandingkan chattingan terdahulu. Ku pikir bukan bobotnya beurat atau tidak, yang penting enjoy.

Oiya terakhir saat di lift sebelum kami berpisah, ku ingat dia berkata, "Anggap aja aku teh kakak kamu".. Ya, memang teteh seumuran dengan kakakku. Aku pun menghormati teteh sebagai kakak tingkatku, tapi apakah usia bisa meluruhkan perasaanku padamu? Tak semudah itu, esmeralda~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar