Selasa, 14 Mei 2019

Gadis Eudaimonia

Dia si gadis eudaimonia. Sulit untuk dieja bukan? hehe. Aku mencari arti "eudaimonia" di google. Ku temukan bahwa artinya paham yang mengatakan bahwa tujuan hidup adalah pencari kebahagiaan. Bio Instagramnya pun tertulis, "True Happiness Seeker". Di usianya yang sudah seperempat abad, lebih tua 3 tahun dariku, dia nampaknya terus berproses mencari makna kebahagiaan sejati. Ya semoga saja kau mendapatkannya.

Dosen favoritku sering berpesan bahwa esensi kehidupan manusia adalah menjadi someone that matters to other. Itulah dirimu, seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Nasihat lain beliau adalah, "moodbooster terbaik adalah karya". Dari dua nasihat tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa manusia itu harus menghasilkan karya yang bermanfaat bagi orang lain. Dari situlah awal mula kebahagiaan.

Dia yang mencari kebahagiaan namun tak lupa untuk berkarya. Karya-karyanya selalu bisa ku nikmati terutama tulisan-tulisan yang berasal dari pemikirannya mengenai kehidupan. Tata bahasanya sastrawi, lugas, sistematis. Kontennya berbobot, sarat esensi. Tentu mencerminkan kecerdasan daya pikir sang penulis. Cerdas, itulah sifat anak yang sebagian besar diwariskan oleh ibunya. Akankah dia menjadi ibu yang cerdas? Semoga saja, hehe.

Ku pikir dia pun seorang pendidik yang memiliki sifat keibuan. Selain literasinya yang kuat, ia pun terlatih secara mental untuk mendidik anak. Ia memiliki seorang adik yang mengidap sindrom autisme. Ia sering mengunggah foto-foto bersama adiknya yang diambil oleh ibunya. Tampak kedekatan dan kesabaran seorang kakak dalam mendidik. Ia menuangkan cinta sepenuhnya pada keluarganya. "Aku teh gak mau bikin mereka kecewa lagi". Itulah kalimat yg pernah ia katakan padaku saat ku bertanya bahwa mengapa seringkali ia merasa malu saat ku ajak ke acara tertentu.

"Harta yang paling berharga adalah keluarga". Potongan lirik lagu tersebut mungkin menggambarkan core value darinya. Rumah adalah tempat terbaik baginya. Di sana ada kehangatan dalam keluarga. Seorang ayah yang bijak, membimbing dengan ilmu dan akhlak yang luhur, ibu yang menyayangi anak-anaknya, saudara-saudara yang kompak. Tentu sebuah kebahagiaan tersendiri menjadi bagian dari keluarganya. Ya tentu saja dengan menikahinya. hehe

Jujur saja, semua kriteriaku dalam memilih istri ada padanya. Dia cantik, dia cerdas, dia shalihah, dia berasal dari keluarga yang taat agama. Lebih dari itu, ia menyukai hal yang aku sukai dan aku suka berdiskusi dengannya. Hal-hal tentang Islam, politik, sosial, sejarah, pemikiran adalah topik-topik renyah yang selalu ku diskusikan dengannya. Dia pun bisa membuatku nyaman, baik di media sosial maupun di dunia nyata. Aku selalu merasa nyaman dengannya. Pertemuan dengannya yang hanya mungkin sekali seminggu selalu ku nanti-nanti. Hanya untuk sekedar mengobrol dengannya atau melihat wajah manisnya.

Aku tidak bermaksud berlebihan. Hanya saja selama kuliah, dialah wanita yang paling membuatku nyaman. Memang betul hatiku sering berpindah ke wanita lain selama kuliah. Namun kenyamanan berinteraksi terbaik ku lakukan bersamanya. Nyaman yang ku maksud adalah nyambung, ku merasakan emosi positif, ku merasa bisa saling bertukar pikiran, saling memberi manfaat. Ku senang bercerita, ku pun senang mendengarnya bercerita.

"Teteh, sudikah kiranya kau menjadi istriku?".. InsyaAllah, suatu saat akan ku tanyakan ini padanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar